Jumat, 14 Juni 2013

Mario Teguh: Tiga bentuk impian Anda adalah PJB: ingin PUNYA, ingin JADI, dan ingin BISA: Mario Teguh: Tiga bentuk impian Anda adalah PJB: ingin PUNYA, ingin JADI, dan ingin BISA

Selasa, 07 Mei 2013

Cara Sultan Harun Arrasyid Mendidik Putranya


Di bawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid (786-809 M), Khalifah kelima Dinasti Abbasyiyah, umat Islam mengalami masa keemasannya. Seluruh penerjemah Muslim, Yahudi dan Kristen berkumpul di Baghdad untuk mengalihbahasakan naskah-naskah ilmu pengetahuan dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab.

Pusat-pusat kajian digalakkan oleh pemerintah sementara para ulama dan intelektual rajin menulis karya-karya mereka. Baghdad menjadi tujuan belajar dan detak jantung peradaban dunia. Di masa ini ilmu sangat dihargai dan para ilmuan mendapatkan perlakuan yang istimewa oleh masyarakat bahkan oleh Khalifah Abbasyiah sendiri.

Khalifah dan para Wazir menyerahkan anak-anak mereka kepada para ulama dan ilmuwan Islam untuk diasah akal dan moralnya. Di hadapan para ulama dan imuwan muslim, tidak ada perlakuan khusus bagi anak-anak pejabat negara. Sebaliknya, para anak pejabat tersebut diharuskan menunjukkan sikap hormat yang tinggi terhadap guru mereka sebagai bukti penghargaan mereka terhadap ilmu pengetehuan.

Suatu ketika Harun Ar-Rasyid mengirimkan anaknya kepada Imam al-Asma`i untuk belajar ilmu dan budi pekerti. Kemudian di suatu hari Harun Ar-Rasyid melihat anaknya menyiramkan air ke kedua kaki gurunya itu untuk berwudhu', sementara sang guru membasuh dan membersihkan kakinya sendiri.

Melihat hal ini, Harun Ar-Rasyid merasa tidak senang. Kemudian ia berkata kepada Imam Ashma`i: "Aku mengirimkan anakku kepada anda untuk diajarkan ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Mengapa anda tidak menyuruhnya menyiramkan air dengan salah satu tangannya dan membasuh dan membersihkan kaki anda dengan tangannya yang lain?"

Demikianlah tradisi yang berlaku dalam dunia Islam di masa itu. Sebuah masa yang telah berhasil mengantarkan umat Islam mencapai puncak kemajuannya dan berhasil menyumbangkan khazanah ilmu pengetahuan bagi masyarakat dunia. 

Di masa ini pula sebagian besar naskah-naskah klasik Islam di berbagai bidang ilmu pengetahuan ditulis, baik ilmu yang berkenaan dengan disiplin agama maupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sains dan teknologi

Rabu, 24 April 2013

Suatu hari, rumah Habib Alwi, ayah Habib Anis Solo, di datangi Habib Syekh Cirebon atau yang akrab disapa “Abah Syekh”. Habib Alwi menyambut dengan hangat, soerang santri kemudian disuruh untuk menyiapkan jamuan. Entah mengapa selama membawa dan menyiapkan jamuan satri tersebut menundukkan kepala. Si santri rupanya mengenal baik tamu itu dan berharap tamu itu tidak sampai mengenalinya.



Setelah berbincang ringan dan saling bertukar kabar, Abah Syekh kemudian menjelaskan maksud kedatangannya, ia ingin

Karomah Tahlil KH Kholil



Suatu hari, KH. Kholil Bangkalan diminta untuk memimpin tahlil di kediaman seorang warga. Sampai di rumah shohibul hajat, Kiyai Kholil memimpin jalannya acara. Tetapi ada yang ganjil, setelah salam beliau hanya membacakan kalimat thoyibah “Laa ilaaha illallaah” sekali saja. Lantas salam dan pulang. Padahal oleh pemilik rumah beliau diberi berkat dengan ukuran kardus yang cukup besar.

Sabtu, 06 April 2013

KH Abdul Karim, Pecinta Ilmu yang Rendah Hati



Pertama kali menetap di Desa Lirboyo, ia langsung melantunkan adzan. Aneh, selepas itu, semalaman penduduk desa tak bisa tidur karena perpindahan makhluk halus yang lari tunggang langgang.

Nama kiai ini KH Abdul Karim. Ia adalah pendatang dari Magelang yang kemudian diambil menantu Kiai Sholeh, Banjarmelati Kediri.

Kamis, 04 April 2013

Celoteh Bijak Abah Karno


 Siapa yang g kenal dengan Bapak Indonesia?
semangatnya yang menggetarkan  jiwa menghipnotis rakyat
kata-kata menjadi motivator bagi kebangkitan bangsa Indonesia

berikut sebagian kata-kata bijak beliau

Kita bangsa besar, kita bukan Bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tdk akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik mkn gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak. "Pidato HUT Proklamasi, 1963"
 
Perjuanganku lebihh mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akAn lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. – "Bung Karno" 

biblografi Al Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf


Mbah Nawawi bersama habib syech bin Abdul Qadir Assegaf ketika berkunjung ke Pon Pes Annur (31 Oktober 2010)

Siapa sih yang g kenal dengan tokoh kharismatik ini..? suaranya yang bisa menyihir ribuan orang untuk bersholawat kepada Nabi, tanpa kenal lelah walaupun jadwal manggung dalam satu hari ada dibeberapa tempat.
mari kita mengenal lebih dekat lah sedikit mengenai biografi beliau

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf adalah salah satu putra dari